Terungkapnya Dua Misteri Matematika
Redaksi
Dua dari tujuh persoalan matematika milenium ini mungkin sudah terpecahkan. Rahasia Poincare Conjecture dan Hipotesis Riemann itu bakal mengubah masa depan.
Exeter - Para matematikawan dunia telah berada di ambang solusi dua dari
tujuh pekerjaan rumah terbesar milenium ini dalam dunia matematika.
Satu persoalan menjanjikan pemahaman tentang hubungan antara bentuk dan
waktu. Sementara itu, yang lain bisa jadi berpotensi membawa ancaman
bagi dunia keuangan karena mampu memecahkan rahasia-rahasia penyandian.
Dua pekerjaan rumah itu adalah tentang Poincare Conjecture -
sebuah teorema yang coba menerangkan perilaku bentuk-bentuk
multidimensional - dan Hipotesis Riemann, yang mencoba menerangkan pola
acak dari bilangan-bilangan prima. Keduanya bersama lima permasalahan
lainnya disebut-sebut sebagai "Persoalan Milenium" dan telah ada selama
seabad lebih.
Empat tahun lalu, yayasan swasta nirlaba Clay Mathematics Institute
di Cambridge, Massachusetts, Amerika, telah menawarkan uang senilai US$ 1
juta kepada siapa pun yang dapat memecahkan salah satu dari tujuh
permasalahan matematika itu.
Ternyata, ada saja yang berhasil, setidaknya berupa klaim, yakni
Grigori Perelman, ilmuwan asal Steklov Institute of Mathematics, Rusia,
dan Louis de Branges dari Purdue University, Amerika Serikat. Sepertinya
mereka bakal muncul sebagai kandidat pertama pemenang sayembara
tersebut. Perelman mengklaim berhasil mengungkap masalah Poincare Conjecture, sedangkan de Branges untuk Hipotesis Riemann.
Namun, para matematikawan di dunia sepertinya lebih antusias menguji
pembuktian yang disodorkan Perelman. Ilmuwan eksentrik Rusia itu
mengemukakan dua tahun lalu dan hingga kini masih terus dibuktikan oleh
rekan-rekan sejawatnya di seluruh dunia.
Keith Devlin, ilmuwan matematika dari Stanford University, Senin
lalu, mengemukakan, penundaan dalam menegaskan atau menolak solusi
Perelman mengindikasikan betapa kompleksnya permasalahan Poincare Conjecture. Devlin berbicara dalam Festival Ilmiah British Association di Exeter, Inggris.
"Banyak pakar berpikir bahwa bukti Grigori Perelman tntang nca
Cnjecture adalah tepat, tetapi kelihatannya masih dibutuhkan beberapa
bulan lagi sebelum mereka pasti apakah itu benar atau salah", kata
Devlin.
Devlin sendiri yakin bahwa bukti itu akan terbukti kebenarannya.
"Kalaupun tidak, ide-ide baru Perelman yang telah diperkenalkannya masih
memiliki banyak percabangan lain yang penting untuk permasalahan yang
sama."
Permaslahan Poincare Conjecture dimunculkan oleh Henry
Poincare, ahli matematika dan fisika asal Perancis yang sangat dikenal
di bidang optik, termodinamika, dan mekanika fluida. Dia juga
mengerjakan teori-teori relativitas sebelum Einstein. Pada 1904, dia
mengeluarkan pertanyaan yang sangat mendasar: apa bentuk dari ruang yang
kita tempati ini ?
"Begitu Anda masuk ke dalam empat dimensi, Anda berbicara tentang
ruang yang tidak dapat Anda visualisasikan. Cara termudah untuk
memvisualisasikannya adalah dengan mempelajari apa yang terjadi dengan
satu dimensi di dalam permukaan-permukaan dua dimensi", ujar Devlin,
yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Bahasa dan Informasi di
Stanford.
Teorema yang diciptakan Poincare memang mampu terbukti dalam
dunia-dunia imajinasi sehingga obyek-obyek memiliki empat, lima, atau
lebih dimensi. Tetapi, tidak dengan tiga dimensi.
"Sebuah kasus yang sangat menarik karena kaitannya dengan fisika adalah sebuah kasus ketika Poincare Conjecture belum terpecahkan", Devlin menambahkan.
Sementara itu, hipotesis Riemann menerangkan pola bilangan prima
yang acak. Bilangan prima itu dianalogikan sebagai atom-atom dari
aritmetika, merupakan kunci dari kode penyandian (kriptografi) internet.
Bilangan prima menjaga bank tetap aman dan kartu kredit terlindungi.
Seluruh e-commerce bergantung kepadanya.
Menurut Profesor Marcus Du Sautoy dari University of Oxford, apa
yang belum ditemukan para ahli matematika adalah semacam spektrometer
bilangan prima matematis. "Ahli kimia memiliki spektrometer, sebuah
mesin yang apabila Anda memasukkan sebuah molekul ke dalamnya, mesin
akan menginformasikan atom-atom penyusunnya. Ahli matematika belum
memiliki mesin seperti itu,. Itulah yang kami cari", Du Sautoy
menjelaskan.
Hipotesis Riemann, apabila terbukti benar, memang tidak akan
menghasilkan semacam spektrometer kimia. Tetapi, bukti yang diberikannya
sudah seharusnya memberi pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana
bilangan prima bekerja. Berbekal pemahaman itu barulah mungkin dapat
diterjemahkan menjadi sesuatu yang mungkin untuk memproduksi
spectrometer bilangan prima.
Namun, berbeda dengan Perelman, pembuktian yang coba dikemukakan De
Branges (2004) atas Hipotetis Riemann disambut skeptis oleh
rekan-rekannya sesama ahli matematika. "Bukti yang diumumkannya kurang
komprehensif. Para ahli matematika tidak yakin sayembara itu akan
dimenangkannya", ungkap Du Sautoy. Tetapi, Du Sautoy cepat-cepat
mengingatkan, para matematikawan juga pernah bersikap yang sama di
awal-awal sumbangannya yang terdahulu atas permasalahan matematika yang
lain. Tetapi, belakangan, ilmuwan kelahiran Perancis itu terbukti benar.
Tujuh Problem Matematika
Pada 8 Agustus 1900, di depan peserta Kongres Matematika Internasional
ke-2 di Paris, Perancis, ahli matematika David Hilbert menggelar kuliah
umum yang sangat terkenal. Kuliahnya tentang problem-problem matematika
terbuka. Seabad kemudian, terilhami dari kuliah itu, yayasan nirlaba The
Clay Mathematics Institute (CMI) yang bermarkas di Cambridge,
Massachusetts, Amerika, mencetuskan Sayembara Problem Milenium.
Problem-problem matematika yang tak terpecahkan dipilih oleh sebuah
Dewan Pertimbangan Ilmiah CMI. Ada tujuh problem matematika pada
milenium ini yang menjadi tantangan bagi semua ahli matematika di dunia
untuk membuat formulasinya. Barang siapa yang dapat mengungkap rahasia
itu, tersedia hadiah US$ 1 juta. Ketujuh problem matematika itu:
- Dugaan Birch dan Swinnerton-Dyer: Geometri Euclid untuk abad ke-21, melibatkan apa yang disebut titik Abelian dan fungsi zeta serta jawaban-jawaban terbatas dan tidak terbatas untuk persamaan-persamaan aljabar.
- Poincare Conjecture: Permukaan sebuah apel saling tersambung secara sederhana. Tetapi, permukaan sebuah donat tidak. Bagaimana anda memulai dari ide konektivitas sederhana , lalu mengkarakterisasikan ruang dalam tiga dimensi ?
- Persamaan Navier-Stokes: Jawaban bagi turbulensi gelombang dan angin terletak di suatu tempat dalam pemecahan persamaan ini.
- P versus NP: Beberapa persoalan terlalu besar: Anda dapat dengan cepat membuktikan kebenaran sebuah jawaban yang memang benar, tetapi mungkin akan butuh seumur jagat raya apabila harus memecahkannya dari awal. Dapatkah Anda membuktikan pertanyaan mana yang paling berat dan mana yang tidak ? Hipotesis Riemann: Melibatkan fungsi-fungsi zeta, dan sebuah penekanan bahwa seluruh solusi "menarik" dari sebuah persamaan terdapat pada sebuah (persamaan) garis lurus.
- Dugaan Hodge: Di tepian batas antara aljabar dan geometri, melibatkan persoalan teknis dari bentuk-bentuk bangunan dengan merekatkan blok-blok geometric secara bersamaan.
- Yang-Mills dan Selisih Massa: Sebuah persoalan yang melibatkan mekanika kuantum dan partikel-partikel dasar. Para ahli fisika menyadari, komputer dapat mensimulasikannya, tetapi belum seorang pun yang telah menemukan teori untuk menerangkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar